Bimbingan Konseling Pada Pribadi yang diperlakukan
tidak Adil
diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Ujian Akhir Semester pada mata kuliah
konseling Individu
oleh :
YUSRI
NAFISAH KOMARIAH 1210401114
BPI V C
JURUSAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI
SUNAN
GUNUNG DJATI
BANDUNG
2012M/1433H
A.
Data klien
Fiki murid salah satu SMA di kota Purwakarta, dia adalah termasuk
anak yang baik dan rajin di bandingkan dengan teman – teman seusianya yang
sedang senang – senangnya untuk mencoba hal – hal negatif / kenakalan remaja.
Ia adalah anak kedua dari dua orang bersaudara, ia sangat dimanja oleh kedua
orang tuanya dan kakaknya, semua kebutuhannya tercukupi, semenjak ia berumur 11
tahun ia sudah dibiasakan mandiri oleh kedua orang tuanya, ia di masukan ke
pesantren selepas SD. Ia juga termasuk anak yang bisa dibilang mandiri,
pasalnya semenjak SMP, ia sudah bisa menghasilkan pendapatan sendiri dari
berbisnis pulsa. Ia juga termasuk anak yang berprestasi di bidang olahraga dan
akademik disekolahnya.
Ia sangat dekat dengan kakaknya, bahkan bisa dibilang, ia lebih terbuka
kepada kakaknya dibandingkan kepada ibunya, mungkin karena ia merasa lebih
nyaman apabila curhat kepada kakaknya yang dapat mengerti tentang remaja.
Tapi terkadang ia juga selalu membuat masalah untuk menarik
perhatian orang tuanya, bukan karena orang tuanya tidak memperhatikannya,
tetapi terkadang ia merasa jenuh dengan kehidupannya yang monoton, yang
kegiatan sehari – harinya sudah diatur, seperti sekolah, les, bisnis, mengaji
di pesantren, ia juga merasa selalu diperlakukan tidak adil dengan kakaknya,
dikarenakan kakaknya berada dirumah dan mendapatkan perhatian yang lebih dari
kedua orangtuanya sedangkan ia berada di pesantren dan jauh dari orang tuanya,
dan juga ia merasa masa remajanya kurang terlepaskan. Ia mengaku, bahwa hal
yang paling fatal yang pernah ia lakukan untuk menarik perhatian orang tuanya
adalah, mencoba merokok disekolah yang di ajak oleh teman – temannya dan
ketahuan oleh pihak sekolah, sehingga ibunya dipanggil oleh guru BK
disekolahnya, hal ini membuat ibunya merasa kecewa dikarenakan tidak satupun
anggota keluarganya yang merokok sehingga membuat sang ibu memarahinya,
sehingga seringkali membandingkan dengan sifat kakaknya yang jauh berbeda
dengan dirinya, yang tidak pernah membuat masalah semasa sekolahnya dulu. Hal
pembandingan ini yang ia selalu tidak sukai, meskipun dirinya dekat dengan
kakaknya, terkadang ia suka melampiaskan kekesalan akibat dibanding bandingkan
itu dengan tidak memberi kabar kepada keluarga, sehingga membuat semua keluarga
merasa khawatir. Tetapi kejadian itu tidak pernah berlangsung lama.
Semenjak kejadian itu, ia tidak pernah mau lagi mencoba hal – hal
yang menurutnya sangat merugikan dirinya dan mengecewakan ibunya itu. Kini ia
hidup seperti remaja normal lainnya, melaksanakan kewajibannya sebagai murid
SMA dengan bersekolah yang baik, mengaji dan mematuhi perintah pesantren dan
menjalankan bisnisnya sampai sekarang. Dan tentunya mendapatkan perhatian
ekstra tidak hanya dari ibunya tetapi juga dari anggota keluarga lainnya.
B.
Metode Penelitian
Dalam mendapatkan dan mengumpulkan data klien menggunakan
Metodologi langsung yang digunakan yaitu melakukan pengamatan dengan
penglihatan. Observer mengamati tingkah perilaku klien, mendengar cerita-
cerita dan curhatan klien dan ini sebagai bentuk teknik wawancara yang
dilakukan observer. Dengan demikian observer dapat mengetahui keadaan klien,
masalah yang dihadapi klien dan perkembangan perilaku klien setelah melakukan
penelitian kasus ini. Klien dapat menjadi lebih terbuka terhadap observer dan
observerpun dapat mengikuti perkembangannya sehingga observer dapat menciptakan
raport yang baik.
C.
Deskripsi Masalah Dan Analisis Masalah dengan mengaitkan kajian
Kesehatan Mental
Secara kesehatan mental, mental fiki termasuk kepada pola pistif ( ijabiy
), yaitu kemampuan individu dalam penyesuaian terhadap diri sendiri dan
terhadap lingkungan sosialnya. Juga pada pola pengembangan diri, yaitu
kreativitas, produktivitas, kecerdasan, tanggung jawab, dan lain sebagainya.
Kriteria kepuasan atau kebahagiaan batin seseorang tidak semata –
mata disebabkan terpenuhinya kebutuhan material, namun terdapat penyebab lain
yang lebih hakiki, yaitu kebutuhan meta- material, seperti kebutuhan spiritual.
Dengan meminjam teori Abraham Maslow, hirarki kebutuhan tersebut dikelompokkan
atas dua taraf, yaitu : (1) kebutuhan – kebutuhan taraf dasar ( basic needs )
yang meliputi kebutuhan fisik, rasa aman, dan terjamin, cinta dan ikut memiliki
( sosial ), dan harga diri ; dan (2) metakebutuhan – metakebutuhan ( meta
needs ), meliputi apa saja yang terkandung dalam aktualisasi diri seperti
keadilan, kebaikan, keindahan, keteraturan, kesatuan, dan sebagainya.[1]
D.
Penerapan Bimbingan Konseling
Penerapan bimbingan dengan pendekatan yang lebih mementingkan
kepada dua hirarki kebutuhannya, yaitu basic needs dan meta needs.
Konselor disini berposisi sebagai kakak dari klien sehingga dapat dengan mudah
menerapkan layanan bimbingan dan konseling kepada klien, meskipun tidak secara
langsung tetapi konselor sudah melakukan layanan bimbingan dan konseling melalui
sms, telfon, dan media lainnya seperti jejaring sosial lainnya. Dalam layanan
bimbingan konseling yang diterapkan
kepada klien ini konselor juga bekerja sama dengan kedua orang tua klien
agar dapat membantu dalam proses layanan bimbingan ini.
Waktu permasalahan yang dihadapi klien ini berlangsung cukup lama
yaitu semenjak ia masuk SMA yaitu hampir 2 tahun, dan penerapan layanan
bimbingan ini sudah berlangsung kurang lebih hampir 2bulan.
|
No.
|
Nama
Tahapan
|
Aktivitas
yang dilakukan
|
Bahasa
Verbal yang digunakan
|
|
1.
|
Attending
|
-
konselor
menghampiri klien dan melakukan pendekatan kepada klien
-
konselor
duduk di pinggir klien yang sedang belajar di ruang tamu.
|
-
Bagaimana
disekolah hari ini ?
-
Mendengarkan
klien yang sudah mulai dapat berbicara terbuka, dengan menatap dan
memperhatikan klien dengan perhatian, tenang, dan sungguh – sungguh.
|
|
2.
|
Responding
|
-
Menangkap
pesan utama dari klien
-
Merefleksikan
perasaan klien
|
-
Saya
merasakan apa yang anda rasakan, dan saya merasakan perasaan itu, dimana saat
kita merasa tidak diperhatikan yang membuat kita menjadi kecewa dan kacau.
-
Memperhatikan
dengan baik ekspresi klien dengan agak membungkuk ke arah klien, bersikap
lebih bersahabat
|
|
3.
|
Personalizing
|
-
Menggali
perasaan
-
Refleksi
pengalaman
|
-
Saya
memahami sikap kecewa anda ketika merasa di beda – bedakan dan tidak
diperhatikan, tapi alangkah lebih baiknya apabila di ungkapkan dan
dibicarakan dengan baik, jadi tidak kepada hal – hal yang membuat mereka
merasa kecewa kepada anda .
-
Memberikan
pemahaman kepada klien, keberartian suatu kejujuran dan keterbukaan.
|
|
4.
|
Initiating
|
-
Menjernihkan
-
Memimpin
|
-
Sebaiknya
anda lebih terbuka apa yang inginkan dari kedua orang tua anda, agar mereka
mengetahui bahwa anda tidak suka di beda – bedakan dengan kakak anda
-
Perubahan
yang anda lakukan sudah baik, dan alternatif yang anda ambilpun dengan
menjadi yang lebih baik sudah sangat positif. ( dengan santai, kontak mata, perhatian
)
|
E.
Evaluasi
Adanya layanan bimbingan konseling yang diterapkan ini, sekarang
klien merasa lebih nyaman dengan hidupnya juga dengan keluarganya, hubungan
baik dengan keluarganya terjaga dan juga klien dapat memilih teman sepermainan
yang lebih selektif karena kali ini adanya keterbukaan tidak hanya kepada
konselor yang juga sebagai kakaknya juga kepada anggota keluarga lainnya yaitu
ibu dan ayahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar